iklan

Selasa, 04 Mei 2010

RIJOK ORKESTRA

oleh Alfia Inayati

Sepuluh atau lima tahun silamlah...belum pernah terbayang di benak ini...betapa perlunya merasa bangga karena tinggal dan menjadi penduduk aseli Indonesia, negara yang [katanya ramah] dan mempunyai kekayaan seni budaya tradisional sebagai konsekuensi dari keragaman suku bangsa [kalau yang ini benar belaka].

Melalui jejaring sosial di internet...saya menemukan banyak komunitas yang berdampak menjadi banyak informasi positif yang bisa saya ketahui. Seperti tempoh hari, ada pemberitahuan sebuah konser musik Rijok In Orchestra yang digelar di auditorium fakultas pertunjukan Institut Seni Indonesia [ISI] Yogyakarta. Pertama yang terbayang adalah : Rijok...??? Apaan tuh..??. Berbekal rasa penasaran, berangkatlah saya ditemani teman kos dengan naik"the most beautiful matic" nona SoleMio menuju Sewon.

Hawa dingin dan titik-titik air bekas hujan pada siang harinya yang masih menyisakan gerimis tak menghalangi semangat saya, apalagi perlu ditambahkan bahwa untuk menonton pagelaran tersebut tidak dipungut biaya alias geratis.....wow...mengapa tidak. Membayangkan menonton konser orkestra dengan musik yang lain dari biasanya. Kebetulan juga saya sedang memerlukan artikel tentang musik untuk dimuat di buletin. Wah...memang...pas betul takdir saya.

Sesampai di TKP, bergegas saya masuk untuk mendapatkan tempat duduk yang paling "dhemes" [pas]. Beruntung meski acara sudah dibuka, tapi masih ada tempat duduk yang saya maksudkan. Perkiraan saya meleset, meski tidak membuludak, namun untuk ukuran konser musik daerah, jumlah penonton bisa dibilang cukup banyak dan muda-muda pula. Semoga ini menjadi pertanda positif bahwa generasi muda makin peduli dengan budaya lokal.

Berikut ini adalah deskripsi dari Rijok yang saya kutip dari buklet :

"Dalam bahasa Indonesia, Rijok bisa diartikan sebagai pantun atau berdendang. Dalam adat suku Dayak Benuaq, Rijok digunakan sebagai mediauntuk menyampaikan pesan atau teguran kepada sesama tanpa menyinggung perasaannya secara langsung.Pada awalnya Rijok merupakan seni vokal yang memiliki arti bermacam-macam tergantung dari penyampaian sang penyanyi tersebut. Rijok bisa saja menyampakan pesan tentang kebersamaan, penindasan, kenangan, ceritra kesukaan atau kesedihan sekalipun."

Masih bersumber dari buklet, berikut saya kutip :

"Suku Dayak yang sangat kaya dan beragam akan budayanya. Tjilik Riwut membagi etnis Dayak menjadi tujuh : Dayak Kayan, Dayak Punan, Dayak Iban, Dayak Ot Danum, Dayak Klemantan, Dayak Ngaju dan Dayak Kenyah. Suku Dayak mempunyai sekitar 450 subsuku yang tersebar di seluruh Kalimantan [Ukur 1992 : 27], ada banyak versi tentang kelompok-kelompok suku tersebut.Diantara sekian banyak subsuku yang ada, terdapat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung yang bertempat tinggal di daerah pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Kutai Barat. Seni musik adalah potensi etnis Dayak. Banyak terdapat lagu-lagu etnis Dayak [Rijok} yang sudah dinyanyikanorang-orang Dayak sejak ratusan tahun silam. Di dalam adat istiadat suku Dayak Benuaq, seni musik memegang peranan yang sangat penting, bahkan di setiap upaca-upacara adat yang ada, musik memegang kendali berjalannya suatu upacara ritual.

Dari pembukaan konser, dijelaskan bahwa konser tersebut merupakan tugas akhir dari mahasiswa ISI bernama Gregorius Heriyanto Pemangku, mahasiswa yang menekuni minat studi komposisi.Pada malam tersebut, hadir pula kedua orang tuanya dan sang ayah memainkan seruling Dayak spesial untuk membuka konser. Mulai kagumlah saya.....meski lagunya dimainkan hanya satu seruling saja...namun melodi-melodi dari lagu tersebut mulus dimainkan tanpa terpotong oleh nafas. Sepanjang lagu yang bedurasi sekitar sepuluh menit tersebut, saya bingung memikirkan, kok ndak terputus sama sekali melodinya...lalu kanpan mengambil nafasnya..??

Setelah ayahnya tampil diawal acara, kemudian berturut-turut penampilan solo vokal dari Ika Sriwahyuningsih, membawakan Rijok dalam bentuk vokal [tentu dalam bahasa Dayak], kemudian ditutup permainan musik etnik yang full alat musik tradisional khas Dayak dimainkan dengan apik oleh Dango Uma, sebuah kelompok musik tradisional mahasiswa dari Kalimantan.

Lalu sampailah pada sesi yang saya tunggu-tunggu. Rijok In Orchestra....dimainkan oleh enam puluh lima pemain orkes yang terdiri dari mahasiswa ISI dengan conductor [semoga tidak salah tulis], Christanto Hadijaya. Komponis menulis Rijok ke dalam empat bagian.Aransemen menggunakan harmoni musik barat, meski begitu saya nyaris kesulitan menganalisa bagian-perbagian andai tidak dimainkan secara terpisah. Dalam karya ini, komponis menciptakan komposisi yang idiomnya diambil dari tema-tema Rijok, namun secara keseluruhan menggunakan medium musik instrumental barat [orkestra] yang dikombinasikan denganalat musik tradisional. Demikian pula dengan harmoninya,secara umum menggunakan teknik pengembangan komposisi musik barat. Tanpa mengurangi keindahan daripada komposis tersebut, memang ada resiko yang harus dibayar dengan pencampuran budaya seperti ini yaitu taste daripada musik etnik cenderung tersamarkan atau bahkan mungkin hilang, keculi saat alat musik tradisional memegang peranan sebagi solist.

Maka, walaupun terlihat mengada-ada, saya jadi terbayang tank top dan kebaya. Mengapa kebaya..?? Karena saya lahir dan hidup di Jawa. Lalu apa hubungannya dengan tank top..??Terbayang muda mudi sekarang yang lebih gemar menggunakan tanktop daripada kebaya.Lokal dibungkus non lokal. Saya memilih berada di tengah-tengah. Tak cukup pede memakai tanktop meski dulu pernah langsing dan saya juga tak punya koleksi kebaya. Selain hal tersebut, kultur fashion pun bergeser karena kebaya hanya dipaki pada acara-acara khusus [kebijakan kantor pun tidak menganjurkan memakai kebaya].

Meski begitu, dalam hal musik tetap berbeda. Akulturasi antara musik tradisional dan musik barat memberikan dampak positif [bagi saya pribadi] yaitu mendapatkan alternatif apresiasi musik yang tak biasa, membikin hati makin bangga bahwa ternyata Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kebanggaan tersebut makin lengkap kala diberi kesempatan untuk benar-benar mendengar dan menyentuhkan kedalam rasa tanpa perlu jauh-jauh pergi ke Kalimantan [tetapi say tetap berdoa semoga diberi umur dan rizki untuk bisa mengunjungi pulau tersebut]. Saya pun mengamini ungkapkan komponis dalam kata sambutannya, bahwa ini bukan akhir, justru awal dari segalanya. Semoga generasi muda semakin arif dengan budaya lokal, aktif melestarikan sehingga bisa seimbang dengan globalisasi budaya.

* Alfia Inayati, musisi dan pengajar. Tinggal di Yogyakarta