iklan

Senin, 20 Juni 2011

MEMPUBLIKASIKAN TEATER

Interview dengan David Gibs, seorang Public Relation Free Lance yang juga Aktor.
David Gibbs dari DARR Publicity telah menjadi Humas teater di New York selama 2 tahun terakhir. Dialah yang mempublikasikan pementasan “one Women Show”-nya Cirque Jacqueline : Behing Tha Façade of Jacki O, yang telah dimainkan di New York dan seluruh USA selama 2 tahun terakhir dengan respon kritis yang terus mengalir. Dia pernah menangani publikasi untuk teater-teater baru seperti Row Theatres, Rude Mechanical Theatre Company, The Flea Theatre, White Horse Theatre Company, The Costeau Club di The Jean Costeau Rep, Bank Street Theatre, TKO Entertainment, Double Helix Theatre Company, Queens Theatre In The Park, Crosroads Theatre, One Little Goat Theatre Company, The People’s Theatre, Titans Theatre Company, The Corcoran Gallery of Art di Washington, dan one man show paling terkenal  Mercury : The Afterlife an Times of a Rock God, About Freddie Mercury. David juga pejabat publikasi untuk Andrea Reese, Aktor dan pencipta Cirque Jacqueline. Contack : 212-502-0845
David Juga bekerja sebagai aktor, lebih dari 7 tahun ini baik di panggung, film, maupun TV. Dia adalah pemeran pembantu dalam Gasline, yang memenangkan Jury Prize di Sundance Film Festival untuk kategori film Pendek. Dia juga muncul dalam One Life to Live dan berpentas bersama Flea Theatre di 3 pertunjukan yang disutradarai Jim Simpson. David sebagai pemeran utama dalam The Uninvited Guest karya Michael Murphy di The Mint Theatre dan sebagai Paul westenberg dalam Paul Westenberg di Soho Rep di bawah arahan Carl Forsman. Ia bekerja bersama Israel Horovitz dalam The Widow’s Blind date. Sebagai seorang drummer professional, David bekerja bersama The Rembrandts dan beberapa anggota Gun’s N Roses serta Matthew Sweet band


Bagaimana kamu bisa terlibat dalam dunia publikasi dan apa yang kamu suka di situ?
Saya sebenarnya terlibat dalam dunia Public Relation beberapa tahun lalu ketika jadi drummer di sebuah band Rock n Roll dan saya bertugas mengirimkan press Release, memburu peluang wawancara di radio, dan mencari cara agar ada artikel tentang kami yang muncul di Koran dan Majalah. Menangani Public Relation selalu saya nikmati meski sering gagal. Kemudian aku terlibat di dunia Publikasi teater setelah mencoba menangani publikasi one woman show-nya Jackie O. Nah, setelah kesuksesan Jackie O, tiba-tiba banyak orang manawari saya jadi PR untuk proyek mereka.
Pada dasarnya saya suka proses kerja PR. Sangat menyenangkan buat saya. Setiap pertunjukan pasti baru dan menarik. Saya sangat menikmati ketika mengunjungi pertunjukan, menulis di media atau mengadakan jumpa pers, bertemu orang lain, berkolaborasi dengan orang dan menemukan “poin” penting pertunjukan dan banyak hal, membuat klien senang karena membuat mereka muncul di Koran dan majalah, radio atau TV dan internet.


Apa Job deskripsimu dalam jabatan PR?
Pekerjaanku adalah menghasilkan artikel dan review (ulasan) tentang klien dan proyek yang sedang ia kerjakan dan mencari kesempatan untuk memasukkan nama klien di daftar apapun yang memungkinkan. Aku juga akan mengontak radio, TV, dan situs internet.

MEMBANGUN PERTUNJUKAN IMPROVISASI



ANDREW MCMASTERS adalah direktur artistik dan tim perintis (bersama Mike Christensen) yang mendirikan JET CITY IMPROV dan kelompok usahanya, Wing-It Productions. Jet City Improv, yang telah berpentas secara kontinyu di Seatle sejak 1992, dikenal karena adegan-adegan improvisasi, nyanyian, humor-humor cerdas, dan pentas yang sold out. Setelah terkenal di kalangan mahasiswa dan perusahaan-perusahaan local, Jet City sekarang menempati gedungnya sendiri, Historic University Theatre di Distrik University Seatle. Jet City secara terus menerus menampilkan garapan terbaru, termasuk pertunjukan panjang seperti Instant Musical, Lost Folio, Election Show, dan twisted Flicks. Didirikan oleh dua aktor lulusan pendidikan klasik bergelar MFA, 24 orang anggota Jet City Improve berlatih setiap minggu, pentas beberapa kali setiap minggu, dan menghasilkan pemberitaan setiap selesai pentasnya. Andrew mendapat gelar MFA nya di bidang acting dari Universitas Washington dan BA dalam bidang teater dari Universitas Temple. Dia telah tampil di pentas di berbagai tempat seperti  Seattle Repertory Theatre, Seattle Shakespeare Company, Seattle Children's Theatre, bekerja bersama banyak sutradara seperti Mary Zimmerman, Victor Pappas, and Rita Giomi, juga dalam berbagai film indie maupun komersial. Dia juga salah satu anggota AEA/AFTRA, sekaligus anggota pengurus dari Theatre Puget Sound, payung bagi grup-grup teater Seatle.

Interview oleh Rachel Rutherford

Andrew McMasters, kamu berada di posisi di mana banyak aktor mengejarnya. Anda punya pasukan improvisasi sendiri. Punya gedung sendiri. Ini adalah pekerjaan tetapmu. Jet City Improve adalah salah satu teater improvisasi yang sangat sukses di seluruh Seatle.
Menurut saya, saya cuma sedang wawancara di radio. Hahahhahaa… Terima kasih.

Kenapa kamu tertarik di bidang akting?
Aku kenal drama pada saat di SMP, semua drama musical sekolah dicoba di SMP. Pertama kali mereka pentas, aku sangat menikmati. Aku bersiul dan bersorak. Aku bahkan tidak sengaja sama sekali. Seperti kegembiraan yang keluar begitu saja. Yang kemudian menuntunku ikut audisi dan bermain drama musik di SMA.

Kemana karir aktingmu selepas SMA?
Aku memutuskan kuliah di Teknik Biomedikal. Aku tetap sering pentas dan main olahraga. Salah satu kawan pendiri Firma Hukum tempat ibuku bekerja baru saja berhenti lalu memilih bermain tuba di Philadelphia Philharmonic. Ibuku lalu bilang : “Kamu juga bisa saja memilih apa yang kamu ingin kerjakan sekarang, atau itu akan kamu temukan nanti. Apa yang kamu inginkan?”
Segera aku mencari sekolah teater. Aku dapat gelar BA di teater dari Temple University di Philadelphia. Kampusku rangking lima dalam urusan teater se USA. Kedua orangtuaku juga lulusan sana. Setelah kuliah, aku mencoba teater jalanan. Aku mulai bekerja di Atlantic City melakukan walk-around entertainment dengan karakter badut. Jadi aku tinggalkan kesarjanaan dengan sebuah gelar dan segera menjadi aktor yang bekerja.

LIBBY SKALA tentang One Woman Show



Libby Skala telah memproduksi sebuah one-woman show berdasarakan kisah hidupnya bersama neneknya, seorang aktris nominasi Oscar, Lilia Skala. Jika kebanyakan nenek khawatir, Lilia justru sangat mendukung cucunya yang ingin menjadi aktris, karena ia sadar bahwa tak akan lagi menjadi satu-satunya “kambing hitam” dalam keluarga besar mereka. Di sini Libby akan bercerita tentang segala perjuangan dan keberhasilannya, juga beberapa proses yang panjang dan menyulitkan dalam membangun pertunjukan pribadinya.

Bagaimana kamu tahu bahwa kamu telah membuat satu pertunjukan yang bagus?

Aku biasanya bercerita dengan penuh ekspresi memandang ke wajah-wajah penonton. Jika aku bercerita dengan baik, biasanya ini akan “menular” ke wajah penonton. Ekspresi  mereka seperti sedang berada di dunia lain.

Komentar apa yang kamu dapat dari pementasan terbarumu, Libby And Lilia?



Ada yang bilang mereka sudah mengenal nenekkku, ada lagi yang bilang mereka jadi memikirkan tentang nenek mereka di mana mereka tidak punya hubungan seperti itu dan mengandaikan bisa punya hubungan seperti itu. Kadang-kadang ada orang yang tak mau ngobrol setelah pementasan, tetapi biasanya mereka meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa mereka terlalu terbawa emosi dan tak sanggup untuk ikut ngobrol-ngobrol setelah pentas.  

Kenapa kamu yakin ada orang lain yang akan menonton pertunjukanmu… mereka yang tidak mengenalmu dan tidak tahu pekerjaanmu dan nenekmu?

Beberpa penonton adalah sesama aktor yang sedang mempersiapkan one-person show mereka sendiri. Jadi mereka datang untuk melihat bagaimana orang lain melakukannya. Itu sering sekali. Apa kamu sadar bahwa semakin banyak aktor yang bikin Solo show? 



Ya. Menurutku ini memang lebih murah biaya produksinya, juga ada profit margin yang lebih besar karena hanya ada satu pemain dan biasanya aktornya adalah juga penulisnya.

Dan juga, menurutku, ini akan membantu orang menciptakan pekerjaan sendiri. Ketika mereka terdesak, lalu menulis naskah one person show yang hanya bisa mereka mainkan sendiri… inikan sebuah kotak pertunjukan yang bisa dibawa ke mana-mana? Ini adalah pekerjaan yang bisa kita pilih daripada menunggu dapat casting di pementasan orang.

Senin, 18 April 2011

Audition Everywhere

MENEMBUS AUDISI AKTING
Oleh M Ahmad Jalidu*


Mendengar kata “Audition” atau “Audisi” akan menyeret kita pada sebuah acara seleksi penjaringan bakat ataupun serangkaian seleksi band untuk sebuah pemanggungan atau acara TV. Itu benar, tapi mestinya kata itu juga merujuk pada proses seleksi aktor yang sementara ini di Indonesia lebih dikenal dengan istilah “casting”. Tidak masalah, tapi sejak paragraph ini, setiap kata “audisi” yang saya tulis, yang saya maksudkan adalah “casting”, serangkain uji kelayakan untuk memilih aktor bagi sebuah proyek film ataupun teater.
Di AS (meski saya hanya tau melalui internet), tampaknya di sana audisi adalah sebuah peristiwa yang sangat akrab terutama bagi para aktor dengan tingkat “kelarisan” menengah ke bawah. Agency-agency tumbuh subur (agency aktor, bukan agency modeling), dan pengumuman dibukanya sebuah audisi biasanya disampaikan ke berbagai agency dan lembaga-lembaga asosiasi aktor. Ratusan lembaga kursus akting pun menempatkan materi tips audisi dalam kurikulumnya.
Lain halnya di Indonesia, utamanya di Jogja, meski teater dan film Indie bisa dikatakan subur dengan sesekali datang pula proyek film nasional berlokasi di Jogja dan menyerap sebagian tenaga aktor dan perfilman Jogja, peristiwa audisi ini masih bisa dikatakan jarang. Kebanyakan film baik indie maupun film komersial lebih banyak menyederhanakan langkah dengan langsung menghubungi komunitas-komunitas berbasis akting seperti agency modeling, kelompok teater dan jaringan aktivitas budaya. Lebih banyak lagi proses audisi dilakukan nyaris tanpa prosedur khusus yaitu dengan melakukan perburuan langsung dan menghubungi person-person yang diincar atau melalui jaringan pertemanan dengan si creator atau penanggung jawab casting.